Jurnal

Posted by Yulian Firdaus on Jun 2, '08 3:10 AM for everyone
Sabtu lalu, 31 Mei, saya menyempatkan berwisata ke Istana Merdeka. Sebelumnya saya dengar kabar bahwa Istana dibuka untuk umum awal Mei, namun ternyata jelang akhir Mei baru dibuka. Senang rasanya melihat tulisan-tulisan di sekitaran Sekretariat Negara berbunyi "Istana Rakyat", namun ternyata tur ini lebih banyak membuat saya kecewa. Mungkin ekspektasi saya terlalu sederhana, atau sangat berlebihan sebagai seorang rakyat jelata.

"Engga boleh pake jins, mbak!"

Oh ternyata bukan bicara kepada saya, meski saya juga menggunakan celana jins, jins hitam boot-cut alias cutbray, sepatu hitam cukup mengkilat sisa semiran setelah jumatan kemarin dan kaos hitam casual bersponsor. Masuk melalui pintu Sekneg, Satpam dengan atribut militer itu langsung memberi warning. Sampai di lokasi parkir ada loket pendaftaran. Cukup menyimpan KTP/SIM dan akan diberi tanda pengunjung, begitu kata tiga orang petugas berpakaian hitam-hitam di pintu loket. Hmm, banyak sekali orangnya. Antre di loket ternyata lebih dari setengah jam karena petugas loket kehabisan tanda pengunjung, mungkin dibuat hanya sedikit.

Saat menanti tanda pengunjung datang, saya seperti dipaksa melihat tiga orang ibu-ibu yang bertugas di loket panik teu pararuguh menjelaskan kepada petugas yang datang membawa-bawa tumpukan KTP. Rupanya ada rombongan minta prioritas.

Akhirnya tumpukan tanda pengunjung itu datang. Dan transaksi di meja loket itu memang hanya menukar KTP/SIM dengan tanda pengunjung. Bagus lah, cukup sederhana.

Sebelum mengantre lagi, saya menitipkan tas dulu, karena dilarang membawa kamera, apalagi memotretnya. Tempat penitipan barang yang cukup kecil ternyata dijaga oleh tiga petugas juga. Duh banyak sangat!

"Di dalam sudah kami sediakan fotografer, pak!" kilah seorang petugas saat saya bertanya boleh atau tidak membawa kamera.

"Saya mau memotret, bukan dipotret!"

Satu tur dikelompokkan hingga 25 orang, dan akan dipandu oleh satu pemandu. Dari loket pendaftaran naik bus ke Ruang Serba Guna istana. Saat mengantre tiba-tiba ada seorang petugas cerah ceria nyengir menghampiri saya seperti menangkap basah maling sendal.

"Naaah, ketahuan, engga boleh pake jins! Silakan keluar dulu."

Saya ingin marah, tapi rupanya saya memilih diam. Betapa senangnya mereka membuat aturan tak penting itu. Okelah saya berkompromi. Di konter suvenir ada juga ibu-ibu jualan celana dan batik. Ya, inilah pertama kalinya saya membeli celana panjang selain jins, di komplek istana. Untung nomor yang cocok ada. Namun kejanggalan lainnya tak luput dari mata saya, untuk sebuah counter kecil, ada 5 orang ibu-ibu yang menjaganya, belum termasuk kasir.

Saya tak protes mereka berjualan. Ada peluang, ide dilaksanakan, bentuknya jual beli, harga cocok, sama-sama senang. Halal kok. Namun saya melihat ketaksiapan mereka dalam hal jual beli, mungkinkah  karena ketidakbiasaan mereka bekerja cermat, serius dan melayani?

Temanku bicara lain, "mereka sudah terlalu terbiasa dalam lingkungan feodal, mereka bukan melayani publik, tapi hanya unjuk gigi saya pegawai terhormat, hormati dong, kamu kan cuma rakyat jelata." 

Dua puluh lima orang sebagai satu rombongan naik bus menuju Ruang Serba Guna di sebelah istana. Ternyata hanya seratus-dua ratus meter saja dari loket. Pemborosan sumber daya, tak hanya BBM, juga SDM sang supir.

Di Ruang Serba Guna ternyata harus menunggu 3 rombongan lagi, mungkin agar genap 100 orang, untuk menyaksikan pemutaran video sejarah Istana Merdeka.

Tiap rombongan bersama pemandu kemudian berjalan masuk ke halaman istana dari pintu samping. Pintu depan istana yang menghadap Monas hanya bisa dimasuki oleh tamu kenegaraan saja. Di tangga istana rombongan dipotret oleh fotografer resmi, satu rombongan satu-dua frame saja, dan itu pun hanya di depan tangga istana.

Masuk ke istana, melihat-lihat penataan yang apik, lukisan-lukisan bernilai tinggi seperti lukisan penangkapan Diponegoro dan benda-benda seni lainnya.

Keluar ke belakang melewati taman yang cukup luas, ada pohon Ki Hujan yang sudah berumur 150 tahun, ada gazebo yang dulunya berfungsi sebagai tempat musisi dan lapangan rumput tempat pesta dansa.

Tiba di belakang hanya melewati Istana Negara, yang menghadap ke jalan Veteran. Dan kemudian berbalik lagi ke arah pintu samping Istana Merdeka.

"Dulu di halaman ini ada seekor merak, yang selalu berbunyi saat Presiden Suharto datang," tutur pemandu kepada rombongan.

"Sekarang masih suka bunyi, bu?" ujar seorang ibu bertanya spontan.

Hanya satu dua orang yang menahan tawa.

Kembali lagi ke loket pendaftaran, dengan naik bis, mengambil barang di penitipan, mengambil KTP dengan menukar tanda pengunjung yang ternyata butuh waktu 5 menit lebih. Pukul 03:45, tiga jam total proses Tur Istana Kepresidenan, kurang dari setengah jam berada di lingkungan Istana Merdeka-nya sendiri.

Walau lapar, saya segera bergerak menuju Gedung Kesenian Jakarta, menonton ballet Little Swan persembahan Caritas Ballet

Posted by Yulian Firdaus on May 26, '08 12:35 AM for everyone
Suatu kehidupan dalam dunia seni adalah apresiasi. Apresiasi bisa dalam bentuk memainkan ulang nyanyian, menggubahnya atau sekadar bersenandung, atau juga dalam lingkungan tertentu menjadi penyumbang lagu, yaitu membuat sumbang sebuah lagu. Penikmat layar lebar menuliskan review-nya, atau sekadar mengompori rekan-rekannya untuk ikut menonton. Para kutu buku mengutip dan menelaah ide si penulis. Dalam dunia grafis, paduan warna atau komposisi ditiru-tiru. Yang tersulit adalah mengapresiasi seni tari. Saya tak pandai menari sebab lantai akan terjungkat seketika, dan malahan menjadi akting ayan.
"Gawe atuh, sasapu, kukumbah atawa beberes!"
"Alim ah, laleuleus."
"Ngibing atuh?"
"Henteu ah, hareuras."
Tahun 1980-an, Gugum Gumbira sukses mengangkat sebuah tarian yang disebut Jaipong atau Jaipongan. Jaipong dikembangkan sebagai jawaban atas dilarangnya musik Rock & Roll oleh presiden Sukarno di tahun 1960-an. Selama belasan tahun sang koreografer Gugum Gumbira mengadaptasi seni tari Ketuk Tilu dan Bajidoran yang terkenal sebagai tarian rakyat sebagai gaya kaleran atau northern style alias tarian pesisir utara Jawa Barat (Bekasi, Karawang, Purwakarta, Subang dan Indramayu). Ketuk Tilu sendiri berasal dari tarian ronggeng dan tayub. Ronggeng adalah perempuan penari dan tayub adalah penonton yang aktif turun ikut menari bersama ronggeng.

Di setiap acara panggung tujuh belasan di tahun 1980-an tersebut, jaipongan Daun Pulus Keser Bojong yang diperkenalkan oleh grup orkestra dan tari, Jugala, menjadi primadona hiburan yang selalu ada. Sebuah tarian yang dipersembahkan oleh seorang mojang dan seorang bujang yang memadukan gerakan, lembut, cepat, patah-patah, aerobik hingga sedikit erotik. Juga kental dengan unsur gerakan Pencak Silat. Iringan musiknya sendiri merupakan gamelan yang lebih sederhana daripada gamelan lengkap pada Wayang Golek atau Degung, dan diiringi nyanyian seorang Sinden.

Tahun 1990-an saya tak ingat pernah lagi menonton tari Jaipong ini. Mungkin tersisihkan oleh dunia musik metal, hiburan film dan kesibukan lainnya. Juga di acara tujuh belasan jarang lagi saya temui tarian ini. Lebih banyak band musik modern, pantomim, tarian western modern atau kabaret.

Hari Sabtu lalu, sesampainya di stasiun Bandung, saya menyempatkan diri menikmati baso Mang Jai di Cikudapateuh pinggir rel kereta api yang sekarang rupanya sudah di-upgrade menjadi baso Haji Jai. Eh, kok bicara makanan. Selepas makan baso yang enak tersebut saya mengubek-ngubek harian Pikiran Rakyat, mencari-cari peristiwa, pentas atau apapun yang layak dikunjungi. Dirasa tak menemukan yang cocok akhirnya menyempatkan diri ke Taman Budaya Jawa Barat di Dago, yang terkenal juga disebut sebagai Dago Tea House, hanya untuk makan malam.

Ternyata, eh ternyata, Taman Budaya sedang menggelar pentas yang dipersembahkan oleh murid-murid sekolah seni. Penonton cukup banyak di bangku terbuka, termasuk di lantai atas yang berfungsi sebagai tempat makan. Nasi tutug oncom kunikmati sambil melihat anak-anak balita unjuk kabisa memainkan piano keyboard dan bernyanyi.

Pentas kemudian dilanjutkan dengan tarian dan kabaret anak-anak SD. Cukup lucu untuk membuat tertawa, sebab mereka sudah bermental berani unjuk kabisa di atas panggung. Salah benar, serius atau tidak, jelek atau buruk menjadi hal yang tak penting.

Penampilan berikutnya masuk ke kelas remaja. Jauh lebih serius dan lebih indah. Dibuka dengan tari jaipong Tablo oleh dua orang remaja putri (SMP). Saya tak tahu sejak kapan jaipong Tablo ini mulai terkenal. Tablo sendiri artinya adalah meratapi kematian.

Jaipong Tablo Jaipong Tablo Jaipong Tablo Jaipong Tablo

Jaipong Maung Lugay melanjuti acara pentas kemudian, juga dibawakan oleh dua remaja putri (SMA). Gerakan jaipong ini cukup dinamis, mengalir lentur dan kadang menghentak seperti gerakan macan alias maung.

Jaipong Maung Lugay Jaipong Maung Lugay

Sebelum pentas ditutup dengan opera monolog dan ngibing rampak Pencak Silat, panggung pentas mempersembahkan tarian yang terkenal di masyarakat Sunda, yaitu Tari Merak. Sebuah tarian yang indah tentang burung merak, meski saya bukan penggemar pedasnya cabe.

Tari Merak Tari Merak Tari Merak Tari Merak

Posted by Yulian Firdaus on May 6, '08 2:19 PM for everyone
Dari trotoar depan sebuah plaza mentereng kubidikkan kameraku ke arah ruang yang cukup menarik untuk kurekam menjadi gambar. Kamera DSLR mungil tetap saja dilihat orang-orang seperti wartawan. Jika tidak, ya tukang foto keliling yang sekarang sudah tak laku di ruang-ruang publik atau tempat wisata keluarga. Rasanya tak ada istilah fotografer bagi orang awam, apalagi memotret sebagai hobi sepertinya sulit untuk dimengerti. Selagi asik mencoba-coba berbagai setting kamera, dari sudut mata kulihat seorang Satpam menghampiriku.

"Mas, gak boleh motret, mas!"

Kuabaikan seruan itu, bahkan melihatnya pun aku enggan. Salah satu sifat burukku yang kadang keluar saat kuanggap tak penting kepada orang asing. Trotoar adalah ruang publik, begitu pula dengan lobby mall atau gedung. Ruang publik adalah tempat bebas, meski bukan sebebas-bebasnya tanpa etika. Dan memotret di ruang publik adalah salah satu kebebasan tersebut.

"Mas, motret buat apa?"

"Buat koleksi pribadi," sahutku sambil terus memotret.

"Di sini dilarang memotret, mas. Mas dari mana?"

"Dari Thamrin," jawabku sekenanya. Cukup garing karena plaza itu terletak di ujung jalan M.H. Thamrin.

Dan aku terus memotret, hingga ia pun pergi kembali ke tangga dekat lobby. Mungkin merasa gagal menunjukkan eksistensi dan wibawanya.

***

Siang itu aku dan Wesly memasuki plaza gedung dengan standar internasional, atau tepatnya International Style dalam Arsitektur Modern (pada bagian zoning atau pemintakatannya, bukan bentuk/bahan bangunannya) seperti pada Seagram Building yang menjadi pencetusnya, itu pun Ludwig Mies van Der Rohe bersama Philip Johnson tak sengaja merancangnya. Terlihat jelas dari sempadan bangunan yang berjarak 30m lebih dari pinggir jalan dan dijadikan plaza. Dalam arsitektur lokal, plaza adalah semacam halaman/ruang terbuka dan pendopo sebelum memasuki bangunan utama.

Setelah melewati pagar dan pemeriksaan barang basa-basi tanpa keseriusan dan entah yang diperiksa apa dari tas kami; kami teruskan memasuki pelataran dan ke lobby gedung. Juga ada pemeriksaan lagi yang saya pikir tak ada gunanya. Toh jika saya membawa botol kaleng bergambar bunga Lavender berisi gas kentut pun tak akan terdeteksi.

Di sudut lobby, di jejeran Anjungan Tunai Mandiri saya memainkan kamera DSLR yang sekarang sudah balik nama ke Indra. Bahkan memotret pun belum tiba-tiba terdengar hardikan dari belakang saya.

"Hey, motret apaan kamu? Di sini dilarang memotret. Coba lihat kameranya?"

Saya cukup kaget. Wesly jauh lebih kaget lagi, dan tersinggung, langsung menghentikan interaksinya dengan ATM.

"Ada apa? Bapak ada masalah apa? Saya customer di sini," dengan nada Indonesia Timurnya yang kental.

Selanjutnya saya tak ingat lagi perseteruan Wesly dengan Satpam tersebut. Dan berakhir dengan kesimpulan sang Satpam tetap berusaha bekerja menunjukkan eksistensi dan wibawanya.

***

Lepas menonton film Iron Man bergerombol, Deden dan Henny mengajak lagi menonton film Earth (2007). Karena perut cukup lapar meminta diisi sesuatu yang padat akhirnya kami membeli burger di luar lingkungan studio film, sebab di bioskop hanya menjual jagong borondong berlabel popcorn, atau makanan ringan lainnya.

Teringat di lingkungan bioskop tak boleh membawa makanan dari luar, jadilah makanan tersebut kami masukkan ke dalam tas masing-masing, sehingga kamera DSLR Suster terpaksa saya jinjing saja. Itu pun tas perempuan yang dibawa Suster tak sanggup menutupi makanan yang kami bawa, sehingga ditutup lagi dengan majalah Femina bersampul Sandra Dewi milik Deden.

*rasanya ada yang salah di kalimat terakhir...*

Saat memasuki kembali lingkungan studio, saya diperingati oleh petugas karena membawa kamera. Telat datang dan terganggu oleh usilnya petugas tersebut membuat saya kesal juga.

"Emangnya ada orang bodoh yang hendak motret di bioskop?" seruku mulai sinis.

Untungnya Henny menengahi secara persuasif dan sopan sehingga bisa segera masuk studio saat Jean Luc Picard, eh, Patrick Stewart sudah memulakan narasinya. Makanan pun dikeluarkan dari tas, dan kamera disimpan kembali, serta menikmati film dokumenter tentang bumi yang mulai kepanasan.

***

Membawa kamera ke mall atau gedung perkantoran adalah kriminal, apalagi memotret.

***

Den, kata Shinta, majalahnya sudah dibaca atau ditatap saja?

Posted by Yulian Firdaus on Apr 13, '08 10:51 AM for everyone
Tahun 1980-an untuk pertama kalinya saya menginjak Jakarta. Girang rasanya naik ke gedung tinggi dan melihat Jakarta dari atas lantai 7. Rasanya tinggi sekali. Kala itu Jakarta menyambutku dengan sumpeknya Terminal Cililitan. Naik kendaraan balok besar berwarna oranye, alias Metromini, yang sampai sekarang masih beroperasi dengan segala kebututan kursinya --yang juga berwarna oranye-- dan kebisingan mesinnya yang melesat mendahului kecepatan minibus itu sendiri. Tak ingat jika ada monumen atau gapura penyambut bagi yang datang dari luar kota Jakarta.

Tak ingat jika kala itu jalan yang saya lalui adalah jalan Jend. Gatot Subroto, hanya monumen kera putih yang bertengger di atas tiang lengkung yang disebut Tugu Pancoran, monumen kedirgantaraan Indonesia. Jangan tersilap dengan daerah yang disebut juga Pancoran di Glodok.

Sepuluh tahun berikutnya saya kembali mengunjungi Jakarta. Seperti orang kampung yang kampungan saya terpana melihat perubahan yang sangat banyak. Tetap mulut ini berdecak meski sering dilihat melalui TV seperti apa Jakarta kala itu dibanding tahun 1980-an. Teman saya yang lahir di Yogyakarta dan besar di Bali terlebih lagi sangat terimpresi gedung-gedung tinggi di sepanjang jalan Sudirman. Maklum, saat itu kami masih mahasiswa yang terkena scam dosen-dosen yang studi di luar negeri membawa impian kota-kota besar Eropa dan Amerika. Oh ya, Jakarta menyambut kami kala itu hanya melalui gapura di jalan tol Cikampek-Pondok Gede, karena sang sopir lebih senang melewati jalur Pasteur-Padalarang-Purwakarta-Cikampek daripada jalur Pasteur-Padalarang-Cianjur-Puncak-Ciawi.

Dan seperti biasa, empat helai daun semanggi dikitari sebagai victory lap mendatangi Jakarta.

Kini saya ikut memadati metropolitan ini, dan di senin pagi Jakarta menyambutku dengan kemacetan tol Cikampek, Cawang, Gatot Subroto, Kuningan, Casablanca dan Sudirman. Oh ya, sampai sekarang saya belum tahu kenapa KM0 Jakarta berada di Cawang, KM0 yang berada di pinggiran kota, bukan di tengah kota.
Air Mancur Bundaran H.I.
Di tahun 1962 Jakarta menyambut tamu-tamu kenegaraan di Bundaran Hotel Indonesia. Patung sepasang manusia menggenggam bunga dan melambaikan tangan tinggi dikitari air ratusan air mancur menyambut mereka yang datang dari arah Monas. Kala itu Presiden Soekarno membangun Monumen Selamat Datang dalam rangka ASIAN GAMES IV di Jakarta. Para atlet dan official menginap di Hotel Indonesia dan bertanding di komplek IKADA, sekarang komplek Gelora Bung Karno, Senayan. Stadion Senayan menjadi kebanggan Indonesia saat itu, stadion terbesar di Asia Tenggara yang mampu menampung penonton sebanyak 120.000 orang.
Monumen Selamat Datang
Ide pembuatan patung ini berasal dari Presiden Soekarno dan rancangan awalnya dikerjakan oleh Henk Ngantung yang pada saat itu merupakan Wakil Gubernur DKI Jakarta. Tinggi patung perunggu ini dari kepala sampai kaki 5m, sedangkan tinggi seluruhnya dari kaki hingga tangan yang melambai adalah 7m, dan tinggi kaki patung adalah 10m. Pelaksana pembuatan patung adalah team pematung Keluarga Arca pimpinan Edhi Sunarso di Karangwuni. Pada saat pembuatan Presiden Soekarno didampingi Duta Besar Amerika pada saat itu Mr. Jones beserta para menteri sempat berkunjung ke sanggar Edhi Sunarso. Pembuatan patung ini memakan waktu sekitar satu tahun. Diresmikan oleh Bung Karno pada tahun 1962.

Pada tahun 22 Juni 2002, tepat pada saat perayaan hari jadi kota Jakarta yang ke-475 air mancur di Bundaran H.I. itu direnovasi dengan biaya senilai Rp14 miliar yang didapat dari hasil kompensasi sepuluh titik reklame dan sponsorship.

Monumen kota adalah ruang publik. Sungguh sayang jika sebuah ruang publik tidak berdaya. Gerombolan BHI memanfaatkan ruang publik tersebut, setiap Jumat malam, duduk dan mengobrol bercanda ria di sekitaran simbol ruang penyambutan "Selamat datang di Jakarta". Sebuah gerombolan yang memang mayoritas pendatang dari luar Jakarta. Ruang publik yang diberdayakan oleh rakyatnya, meski kadang pemerintah menilainya seperti preman jalanan bergerombol hendak makar, padahal mereka hanya makan dan ngokar dan plus ngopi.

Jakarta, bukalah lebih banyak lagi ruang publikmu. Kami butuh!

Oh ya, melalui Google Earth, tampilan 3D monumen ini ada yang bersuka rela membuatnya. Bisa anda lihat di Ciko Blog.
Sudirman-Thamrin Jakarta di Google Earth

Posted by Yulian Firdaus on Apr 5, '08 12:28 PM for everyone
Jelang enam bulan berlalu saya tinggal di Jakarta, baru tadi malam akhirnya saya menyempatkan menikmati shopping mall Grand Indonesia.

Shopping mall besar ini pertama kali saya masuki di saat acara Pesta Blogger bulan Oktober 2007 lalu. Masuk langsung naik ke Blitzmegaplex dan saat bubar kemudian turun langsung dan malah berdesak-desakan di rusun Kebon Kacang, rumah Hericz Sang Kodok Ngorok, eh Ngerock. Bayangkan saja ruang tamu (sekaligus living room) rumah susun dipenuhi sekitar 25 orang.

Tidak banyak ruang lebar dan tinggi dan lebar seperti halnya di Senayan City, yang tenar disebut Yanti atau Sensi. Konsep ruangnya bermacam-macam, ada yang standar dan banyak juga eksperimen penyerapan bahan. Di satu tempat banyak kaca transparan digunakan, di tempat lain bambu-bambu menjadi bahan dan hiasan ruang. Suasana Eropa, Western, Cina, Jepang dipadukan. Sebagian lagi belum sampai tahap finishing tapi sudah banyak orang berlalu lalang.

Dari arah Plaza Indonesia saya melihat tulisan Alun-alun Indonesia, tadinya saya pikir itu adalah semacam konsep yang hendak disampaikan oleh Grand Indonesia. Grand Indonesia sebagai alun-alun, sebuah ruang tempat berkumpul, tempat meeting-point, tempat makan, tempat apel nonton malam mingguan, tempat wisata komidi putar dan termasuk jual-beli karena di dalamnya ada pasar dan pertokoan. Ternyata saya tolol, Alun-alun Indonesia hanyalah sebuah toko yang memamerkan dan menjual karya seni dari seluruh Indonesia.

Oh ya, di Alun-alun Indonesia tadi malam itu sedang ada pameran fotografi karya Sigit Purnomo. Puluhan foto tentang Bromo yang indah dipajang, beberapa sudah tertulis reserved, sudah ada yang membeli. Suatu hari saya ingin berwisata lagi ke Gunung Bromo.

Tepat pukul sembilan, di satu void lantai 3 dan 4, ada tontonan air mancur. Menari-nari geometris dan menyuguhkan permainan warna. Orang-orang pun mendekat tanpa terciprat, dan serentak mengeluarkan ponsel kameranya masing-masing. Kunikmati tarian air berwarna itu di balik lensa, sambil bersenandung mengikuti alunan musiknya. Lensa Nikkor 18-200mm VR memang sangat berguna di segala suasana. Terima kasih, Wesly!

Sing once again with me our strange duet ...
My power over you grows stronger yet ...
And though you turn from me to glance behind,
the Phantom of the Opera is there
inside your mind . . .


Water Fountain @ Grand Indonesia 11 Water Fountain @ Grand Indonesia 10 Water Fountain @ Grand Indonesia 9 Water Fountain @ Grand Indonesia 8 Water Fountain @ Grand Indonesia 7 Water Fountain @ Grand Indonesia 6 Water Fountain @ Grand Indonesia 5 Water Fountain @ Grand Indonesia 4 Water Fountain @ Grand Indonesia 3 Water Fountain @ Grand Indonesia 2 Water Fountain @ Grand Indonesia 1

Terima kasih teman, kau sudah temani malamku.

Pukul sepuluh aku pulang, berjalan menuju Bundaran H.I. Saya lupa, dan baru setelah melihat Mas Ipul sedang duduk melihatku akhirnya tak jadi pulang, ikut nongkrong bersama dua puluh lebih para blogger, termasuk Herman "Momon" Saksono, Tikabanget, Ndoro Kakung, Iman Brotoseno dan yang lainnya (kadang saya pelupa dan kurang cermat mengingat).

Bundaran H.I. 1Bundaran H.I. 2

Posted by Yulian Firdaus on Mar 26, '08 4:58 PM for everyone
"Sudahlah, kita bisa saling memaafkan."

"Bagiku yang lebih penting adalah memperbaiki diri. Aku meminta hal itu karena aku juga melakukannya, dan aku tak melihat sikapmu sedikit pun berusaha seperti itu. Meski kau sebut aku cerewet, bawel, complicated atau apapun itu."

Ia hanya diam senyap, dan aku tak pernah tahu relung-relung pikirannya mengawang ke mana. Yang kurasakan hanya kebencianmu berteriak, "enyahlah dariku!"

"Kuminta dengan hormat sebagai teman..."

"Buat apa?" balasku cepat, "kita punya tali persahabatan yang sudah melewati ruang dan waktu lalu kau minta menurunkan sesuatu yang lebih bernilai dengan mengurangi dan menghilangkannya. Kau minta sesuatu yang lebih rendah dari yang sudah kita lakukan lebih dari itu."

"Ini hal biasa dalam persahabatan, makanya, sering-seringlah bersahabat!"

Aku tersinggung. Lukaku kau anggap biasa, lebih tersinggung lagi sikapmu kau anggap biasa, sedangkan kau tahu itu salah, menyakiti terlebih lagi salah. Aku hanya membaca kau memintaku menerima keadaan. Keadaan yang telah kau ciptakan agar kau berharap aku berbuat kesalahan lain sehingga kau bisa terbahak menendangku dan berseru, "enyahlah dirimu, kau tak cukup berharga buatku"

Dan kau pun tertawa bersama duniamu. Dunia yang kuperkenalkan kepadamu, dan juga kamu yang kuperkenalkan pada dunia itu. Saat di mana aku bahagia melihatmu bahagia, jauh dibandingkan saat pertama kuraih langkahmu. Saat di mana aku bahagia melihatmu semakin memesona. Dan kini kudengar kau menertawaiku, bersama duniamu, yang juga duniaku. Dan aku tahu itu bukanlah tertawa guyon dalam ketololan suasana riang gembira.

Hanya aku yang merasakan kegetiran itu. Pahit. Menusuk jantung.

Saat kukatakan lagi sikapmu yang menyakitiku, meski hal itu tak perlu karena kau sendiri tahu, sadar ataupun tidak, kau hanya berucap dengan angkuh, "aku memang egois."

Aku menangis.

Saat kuingat semua petuahmu, dukunganmu dan segala bantuanmu agar aku tetap berusaha, kini aku melihat hal yang sebaliknya. Aku tak melihat hal yang sama dari semua ucapanmu. Sungguh ironik.

Kini aku diam, bersama duniaku, yang juga duniamu. Samar masih kudengar tawa itu. I am ignored, insulted and abandoned.

Kini aku diam, dalam kesabaranku yang masih cukup banyak, but forgiven is not for sale, nor the will to forget. Memaafkan adalah hal mudah bagiku, setidaknya setelah melihat usaha perbaikan. Dan kau tak pernah mau menunjukkan hal itu.

Mungkin memang aku harus getir suatu saat melihat perbaikan itu bukanlah untukku. Ternyata aku hanya katalis, diambil untuk ikut bereaksi dan setelah itu ditendang keluar dari proses tanpa menjadi apa-apa.


Posted by Yulian Firdaus on Feb 8, '08 4:39 PM for everyone
Sewaktu kecil saya suka makan kelewek atau kluwak. Biasanya rebutan sama teteh saya meng-geprek-geprek dengan mutu --mutu, jaminan coet!-- atau bahkan palu jika mendapatkan yang keras dan susah pecah, lalu mencungkil bagian lunak yang menghitam dengan sendok kecil, malah lebih sering cukup dengan jempol saja. Apa daya, saat itu makan daging adalah sebuah kemewahan, jadi kelewek yang sering dibeli rasanya tak pernah dibuat untuk menjadi rawon. Daging pun biasanya hanya asesoris sayur sop, itu pun hanya kerewed (daging bukan, jeroan bukan, entah bagian apa). Oh iya, waktu itu saya suka membuat sayur sop bening karena sangat gampang, tinggal ke pasar tradisional dengan uang Rp200 dapatlah satu plastik keresek sayuran lengkap (wortel, buncis, oyong, kol, tomat, kentang, terong, seledri dan daun bawang) untuk membuat sop setengah panci. Tinggal cuci, potong-potong, masukkan bumbu seadanya dan rebus. kelewek, kluwak, picung, pucung, pangi, kepayang

Di lain waktu ibu saya membeli kelewek yang masih muda, kami sebut picung atau pucung. Kelewek yang masih muda, atau picung ini tidaklah berwarna hitam, tapi putih bersih. Buat saya cukup rumit untuk memasak picung ini, entah ditumis, entah diapakan. Jadi hanya kebagian memakannya saja.

Rasanya saya salah sering mengaku-ngaku waktu kecil saya tak suka sayur sampai sering mimisan, bisa dua-tiga kali dalam seminggu, bahkan selagi tidur saat bangun pagi bantal saya penuh darah. Mungkin karena porsi makan ikan (mujair, layur atau kembung) jauh lebih banyak daripada sayurnya sampai saya masuk SMA. Atau mungkin karena saya enggan memakan sayur yang diolah aneh atau rumit, misalnya terong ungu dimasak, ditumis, entah diapain, sehingga wujud akhirnya penuh bumbu, termasuk cabe dan pedasnya yang tak saya suka. Lebih suka memakan terong, buncis, kacang panjang atau wortel selagi mentah setelah dicuci.

Ikan pun begitu, lebih suka cukup digoreng hingga kering (apalagi mujair kering) atau dipindang (direbus di panci hingga airnya habis), dan porsi ikan ini setiap harinya biasanya hanya untuk dua perut saja, satu porsi buat saya, dan satu porsi buat kucing, dari sejak si Mereng, si Molly, si Eke, si Pacar hingga si Melit.

Saat makan sayur picung ini sering diwanti-wanti agar jangan terlalu banyak, sebab bisa membuat pening kepala, bahkan katanya sampai mabok. Entah juga maboknya seperti apa, yang jelas jika tidak diproses dan diolah dengan baik; picung ini mempunyai kandungan asam sianida yang cukup tinggi. Meskipun asam sianida biji picung sangat beracun, tapi mudah dihilangkan karena sifatnya yang mudah larut dan menguap pada suhu 26ºC.

Picung yang punya nama Latin pangium edule adalah tanaman pohon setinggi 40 meter dan berdiameter batang 2,5 meter. Daerah penyebarannya hampir mencakup seluruh Nusantara. Bisa tumbuh secara liar di daerah pada ketinggian 1.000m di atas permukaan laut. Tanaman ini mulai berbuah pada umur 15 tahun dan terjadi di awal musim hujan. pangium edule

Divisi: Spermatophyta
Sub Divisi: Angiospermae
Kelas: Dikotiladonae
Bangsa: Cistales
Suku: Flacouritaceae
Genus: Pangium
Spesies: Pangium edule

Orang Amerika menyebutnya football fruit karena bentuk buahnya yang mirip bola football (yang samasekali tidak berbentuk bola) ala American Football, sedangkan di Indonesia dikenal dengan nama kepayang atau pangi. Nama picung berasal dari bahasa Sunda, beberapa masyarakat menyebutnya pucung.

Tiap daerah memiliki nama yang khas. Orang Betawi menyebutnya pucung, orang Minangkabau menyebutnya kapayang, lapencuang, kapecong, dan simaung. Orang Lampung menyebutnya kayu tuba buah. Di Jawa dikenal dengan nama pakem. Di Sumatra Utara disebut hapesong. Sedangkan orang Bugis dan Bali menyebutnya dengan nama pangi.

Picung juga mempunyai manfaat lain, yaitu untuk mengawetkan ikan. Untuk dapat memanfaatkannya sebagai pengawet, picung dicincang halus dan dijemur selama 2-3 hari. Hasil cincangan ini kemudian dimasukkan ke dalam perut ikan laut yang telah dibersihkan isi perutnya. Cincangan biji picung memiliki efektivitas sebagai pengawet ikan hingga 6 hari . Khusus untuk pengangkutan jarak jauh, tanaman ini dicampur garam, dengan perbandingan 1 bagian garam dan 3 bagian biji picung. Fungsi pengawet ini berasal dari kandungan komponen antibakteri yaitu asam sianida, asam hidnokarpat, asam glorat, dan tanin.

Selain itu, tanaman picung punya kegunaan lainnya. Kayunya dapat dipakai untuk membuat batang korek api, daunnya digunakan sebagai obat cacing dan bijinya sebagai antiseptik. Kulit kayu yang diremas-remas dan ditaburkan di atas air dapat mematikan ikan (tuba ikan) maupun udang. Selain itu, inti biji yang digerus dapat digunakan untuk membersihkan kutu/caplak pada lembu.

Informasi tak penting lainnya adalah bahwa jalan Picung terletak di Gegerkalong Hilir sebelah pintu masuk komplek Telkom dan jalan Cipicung berada di Ciumbuleuit.

Posted by Yulian Firdaus on Feb 1, '08 4:28 PM for everyone
I know I'm alone, but somebody's watching me
Follows me everywhere I go
A cold flow surprised again, I shiver
The presence of something, I can hear it's breathing

Leave me alone, wherever you came from
Hearing so much voices, no one's talking

Running for something, nothing, in the black of the night
Creeps around you, the invisible force that makes you crazy
I can't remember how it feels to be warm, to be alone...
Without that fear deep inside me

Icons of death float on beyond me
whispering my name and breathing my fear

The menace of insanity
Inner voices cry out for action
Defenceless as I am
Lost in the alleged paradise

I'm not sure if I am here or elsewhere
Searching for satisfaction
Beyond the frontiers of my comprehension

--
After Forever, duet Floor Jansen with Sharon den Adel, from Prison of Desire.


Posted by Yulian Firdaus on Dec 14, '07 2:24 PM for everyone
Desember 2004 yang lalu, saya mengurus paspor untuk keperluan acara asosiasi juragan-juragan bandwidth ke Malaysia. Paspor selesai, saya terabai; alias saya tidak jadi pergi. Jadilah itu paspor hanya mendekam dalam laci kantor, meski mendapat angka cantik perayaan Hari Hak Asasi Manusia. Siapa yang tahu jika ternyata angka cantik itu datang lagi, pagi hari 10 Desember 2007 ini saya berangkat ke negeri Tumasik. Di negeri ini ada sebuah perusahaan kelas hiu yang mengelola semua sumber daya negeri tersebut, perusahaan itu bernama Republik Singapura. Sebagai negara terkecil (luas daratannya) di wilayah ASEAN, Singapura tentu kekurangan orang-orang pintar dan cekatan; jadi hingga saat ini sangat banyak orang-orang pintar dan cekatan dari India, China, Malaysia --bahasa Tamil, Mandarin dan Malay menjadi bahasa resmi selain English-- Indonesia dll hidup dan menghidupi negeri Tumasik tersebut.

MerlionHingga hari Jumat kemarin tiap siang saya berada di kawasan Middle Road, Bencoolen, Waterloo dan sekitarnya, dekat ke stasiun MRT Bugis. Bahkan matahari siang pun belum saya nikmati karena sering hujan di saat mencari makan siang. Waktu selebihnya di dalam ruangan, berurusan dengan angka-angka digital. Lima hari kemarin saya hanya menikmati Singapura menjelang matahari terbit dan malamnya, itu pun juga diganggu sang hujan☞. Andai kamera saya bisa bicara, ia akan berteriak, "Atuh euy, tong motret peuting wae, teu kaciri, anjrit, aing mah ngan kamera pocket!"

Jadi, belum banyak sudut-sudut negara-kota ini saya kunjungi, atau sekadar dilewati dengan berjalan kaki.

Senin sore saat menikmati komplek patung Merlion, hujan turun sangat deras, jadi lebih banyak mendekam di bawah jembatan hingga gelap tiba. Lanjut jalan ke City Mall dan pergi ke Balam Road menemani rekan kerja saya menemui pamannya. Menjelang tengah malam baru bisa ke hotel lagi. Cape. Tidur.

Clarke QuaySelasa malam Didik datang, menemani jalan-jalan dan motret-motret di River Point dan Clarke Quay. Oh ya, daripada makan dan minum di kafe-kafe Clarke Quay akhirnya saya memilih naik Reverse Bungee dan Swing Bungee (plus bonus satu swing, jadi tiga kali). Ternyata masih tak membuat saya berteriak meski adrenalin naik tinggi. Oh ya, Singapura lebih indah dilihat dari kursi duduk Swing Bungee.

Rabu pagi saya baca koran, ternyata Swing Bungee tersebut baru dibuka tadi malamnya.
*tak ada korelasi, ya? skip!*

Rabu malam, Dedhi Simatalangit dan Fajri mengajak kami makan malam di komplek Esplanade dan dilanjutkan dengan jalan-jalan di seputaran City Hall. Kembali ke penginapan di Clarke Quay dan menunggu kantuk datang dengan duduk-duduk di pinggir sungai, melihat-lihat orang lewat, mencuri dengar obrolan tanpa disengaja, kadang menahan tawa saat ternyata yang terdengar adalah obrolan gaya Jakarta.

Kamis malam menikmati MRT ke Changi, mengurus reschedule tiket di terminal. Pulangnya di stasiun Bedok bertemu Didik lagi --bukan nyasar kok, Dik!-- dan makan malam masakan India. Balik lagi ke Clarke Quay ternyata sudah menjelang tengah malam lagi.

Jumat malam saya ke Pasir Ris, dan rekan kerja saya, Andri, ke Balam Road.

Sabtu dan Minggu?
Entah, dolar di kantong tersisa SG$55.

Mampir ke IKEA jangan, ya?

*injek-injek rupiah*

Posted by Yulian Firdaus on Nov 22, '07 11:22 AM for everyone
Ada saatnya telepon selular yang kita pakai --meski di kota besar-- tidak mendapatkan sinyal yang cukup bagus. Biasa disebut sebagai blank spot. Sesuai dengan namanya teknologi komunikasi bergerak selular menerapkan konsep sel untuk mencakupi ketersediaan sinyal di wilayah tertentu. Di wilayah urban umumnya satu sel dilayani oleh tiga Base Transceiver Station (BTS) agar pesawat telepon selular (handset/mobile station) tetap mendapat satu sinyal yang layak dari ketiga sinyal yang diterima. Proses perpindahan dari satu sinyal ke sinyal lain disebut sebagai handover yang dikendalikan oleh Mobile Switching Center (MSC). Dengan kata lain yang lebih tepat, satu BTS biasanya memiliki tiga arah sinyal dan satu koneksi backhaul ke Base Switching Controller (BSC) atau langsung ke MSC. Tentunya di daerah pinggiran belum tentu handset kita mendapat tiga sinyal sekaligus.

Reuse Frequency on cellular networks

Agar tidak terjadi interferensi di frekuensi yang sama, antar sel diterapkan konsep reusable frequency agar satu frekuensi di satu sel bisa digunakan di sel lain yang agak berjauhan. Contoh penerapannya seperti pada gambar di atas. Frekuensi F1 bisa digunakan di sel lain, begitu pula selanjutnya. Konsep ini juga digunakan oleh ISP yang menawarkan akses wireless atau WIFI sebagai backhaul atau backbone-nya, meski penerapan BTS-nya tidaklah sebanyak operator telepon selular.

Di dalam gedung yang beruang banyak atau di pencakar langit, sinyal dari BTS menurun drastis karena terhalang dinding dan beton. Untuk mencegah hal ini, operator menerapkan microcell atau picocell, yaitu sel-sel kecil di tiap lantai bangunan tinggi, termasuk basemen. Dari segi bisnis implementasi mikrosel ini tentu layak jika pemakaian pelanggannya menjanjikan. Bagaimana di daerah pinggiran yang dianggap tak layak untuk dikembangkan BTS atau mikrosel-mikrosel baru? Femtocell mencoba mengatasi kekurangan hal ini.

A femtocell—originally called an Access Point Base Station—is a scalable, multi-channel, two-way communication device extending a typical base station by incorporating all of the major components of the telecommunications infrastructure. A typical example is a UMTS access point base station containing a Node-B, RNC and GSN, with only an Ethernet or broadband connection (less commonly, ATM/TDM) to the Internet or an intranet. Application of VoIP allows such a unit to provide voice and data services in the same way as a normal base station, but with the deployment simplicity of a Wi-Fi access point. Other examples include CDMA-2000 and WiMAX solutions.


Bayangkan dengan teknologi yang sudah diimplementasikan saat ini, operator membangun BTS 3G/HSDPA, femtocell dipasang sebagai perangkat fixed-wireless di sebuah rumah di radius terjauh dari BTS, dengan adanya fungsi relay/extender maka pelanggan tersebut menjadi satu femtocell yang juga melayani/mem-broadcast sinyal ke tempat yang lebih jauh. Handset lain yang tidak mendapat sinyal 3G langsung dari BTS bisa mendapat/menggunakan sinyal 3G yang di-broadcast oleh perangkat femtocell tersebut. Jelas menguntungkan operator dan juga pengguna yang tidak kebagian sinyal karena jauhnya jarak.

Teknologi femtocell ini sudah mulai diimplementasikan pertengahan tahun ini di Amerika oleh operator Sprint. Bahkan Google pun sudah menanamkan modalnya kepada vendor yang membuat perangkat ini.

Sebagai inisiasi, femtocell diimplementasikan sebagai hotspot internet. Dianggap sebagai teknologi yang low cost dan scalable bagi operator. Pemasangan femtocell sebagai extender fungsi komunikasi voice tentunya lebih rumit dibandingkan sebagai hotspot internet, baik dari sisi teknis maupun nonteknisnya. Proses switching dan handover handset di belakang femtocell oleh MSC belumlah sempurna, selain faktor handover sinyal harus low-delay atau sesingkat mungkin. Dalam komunikasi TCP di protokol internet, timeout 5 detik misalnya bukanlah masalah dalam mengakses data web, namun dalam komunikasi voice sudah diputus (komunikasi voice tidak mengenal suara kita dicoba untuk ditransmit ulang, sedangkan komunikasi data --non-VoIP atau realtime games-- bisa diulang, di-retry hingga data lengkap terkirim).

Kabar kaburnya, femtocell akan segera masuk ke Indonesia. Sebuah peluang bagi operator dengan pertimbangan low cost dan scalable-nya untuk diimplementasikan. Minimal memperpanjang dan memperluas akses data internet dibandingkan dengan ketergantungan membangun full scale BTS yang sangat mahal.

Akan matikah ISP --yang bukan operator selular-- yang hanya bisa menjual akses internet tanpa bisa membangun jaringan sendiri dan bergantung pada operator PSTN, DSL, GPRS/3G dan cable TV?

Hanya pemerintah yang mampu dan wajib membuat regulasi yang proporsional serta goodwill para operator kelas hiu agar bisnis tetap berjalan dan konsumen tidak dirugikan.

--Terima kasih buat Pito yang mengabarkan isu ini.

Posted by Yulian Firdaus on Oct 29, '07 3:14 PM for everyone
Sudah sejak awal bulan Oktober ini saya tinggal di Jakarta, mencari penghidupan yang lebih layak, meski bukan kehidupan Jakarta yang ingin saya hidupi. Lama tak menulis di blog ini juga bukanlah karena kesibukan, meski mungkin memang saya sibuk atau menyibukkan diri. Sibuk adalah hal biasa agar tidak stress. I'm too busy to stress.

Tak banyak yang saya kabari bahwa saya sudah ikut menjejali metropolitan ini.

Merunut ke masa lalu hingga sekarang sejak tahun 1999, saya sebenarnya cukup sering ke Jakarta. Kadang pulang-hari, sehari atau dua hari. Mungkin jika dirata-ratakan bisa dikatakan satu kali dalam satu bulan. Bisa saya anggap sebagai bekal --setidaknya sebagai sampling-- bagaimana harus menjalani kehidupan di Jakarta. Saya katakan it's not a big deal to live in Jakarta. Mungkin tak perlu saya tuliskan tips-tipsnya, sebab malah menjadi rumit, seperti jika kita membaca panduan menulis blog, yang ada hanyalah membuat kesan ngeblog itu sulit dan rumit. Tulis saja. Jalani saja.

Jadi apa saja yang sudah saya jalani?

Saya bekerja di gedung perkantoran sekitar Sarinah, tempat beken jadul sejak era Sukarno. Sebuah perusahaan yang bergerak di bidang telekomunikasi. Saya lulusan arsitektur, beberapa tahun bekerja di bidang teknologi informasi dan sekarang di bidang telekomunikasi selular.

Saya tinggal di sekitaran Tebet. Cukup jauh kata orang sudah lama ngekost di Jakarta. Namun tempat kost yang sangat dekat dengan tempat kerja juga bukanlah sebuah jaminan nyamannya pergi bekerja, lagipula transportasi yang saya lalui masih relatif nyaman. Mikrolet M44 dan Busway menjadi kendaraan saya tiap hari. Sengaja saya tak memilih Kopaja atau Metromini karena saya anggap Busway jurusan Blok M-Kota lebih nyaman ditumpangi untuk menyusuri jalan Sudirman, meski jarak shelter Karet hingga Sarinah cukup dekat. Berjalan lebih jauh dan menaiki tangga shelter Busway bukanlah hal rumit.

Soal adaptasi tubuh terhadap cuaca dan suasana Jakarta yang sangat berbeda dengan dinginnya Bandung ternyata bisa diadaptasi dengan cepat. I'm enjoying myself. Di Bandung, berkeringat sekujur tubuh hanya saya dapati jika saya sedang berolah raga. Di sini bisa kapan saja selama di luar ruangan tanpa AC. Mungkin saya bertendensi masih tak butuh tempat kost yang ber-AC. Lebih baik menghirup udara Jakarta secara langsung.

Soal makanan jelaslah tidak sama dengan di Bandung. Pergi bekerja saya tak sarapan, sebab di kantor selalu ada makanan untuk sarapan, meski bukan nasi. Lagipula saya lebih prefer sarapan pagi bukan sesuatu yang mengenyangkan, cukup yang menyehatkan. Susu, sereal dan biskuit sudah cukup buat saya. Siang ada berbagai jus dan sore bisa menikmati cokelat, teh atau kopi. Makan siang harus berlomba menumpangi eskalator saat satu gedung para pekerja kantoran berhamburan ke tempat-tempat makan. Seringnya berakhir dengan menyusuri 80 anak tangga. Makan malam kadang di warteg, masakan Padang, di food-court mall, masakan sea-food pinggir jalan atau goreng-gorengan instan di dapur tempat kost.

Bisa dikatakan pola hidup (sehat) saya di Bandung dengan di Jakarta sama saja, sama-sama tidak sehat menurut orang lain. Seringnya dikomentari makanku kurang atau terlalu sedikit. Yang jelas saya kehilangan porsi sayuran berbentuk dedaunan segar mentah yang mudah saya dapatkan di Bandung. Duh, dasar orang Sunda!

Soal merokok, jelas berkurang, namun masih di kasta berat kretek pita kuning, alias masih mengisap rokok yang bukan low tar low nicotine.

Semoga kapasitas imun saya tak berkurang menghadapi cuaca dan pola hidup Jakarta.

Terima kasih bagi mereka yang sudah menanyakan keadaan saya. Saya tak pernah menganggapnya sebagai basa-basi, namun sebuah kepedulian kepada diri saya meski hanya dalam bentuk pertanyaan.

Terima kasih banyak buat Mira, Gani, Eko Kurniawan, Donny A.H., Oki, Deden, Lea, Indra dan Wesly atas segala bantuan bagi babak baru hidup saya saat ini.

Kini saya merindui dan menjauhi orang-orang yang saya sayangi di Bandung.

Dan menanti-nanti gaji pertama yang tak kunjung tiba di saat saldo semakin menipis karena menganggur sejak bulan Agustus.

Posted by Yulian Firdaus on Oct 5, '07 10:29 AM for everyone

Dua dari sekian banyak alasan menulis blog adalah menulis sesuatu yang sudah diketahui/dipahami atau menulis sesuatu yang belum diketahui/dipahami agar saya mendapat respon pembaca supaya saya mendapat tambahan informasi dan pemahaman (tentu bagi pembaca blog ini juga). Saat ini ada satu hal yang belum saya mengerti, yaitu mengenai konjungsi astronomis bulan-matahari.

Berikut saya tuliskan terlebih dahulu sebagai penyebarluasan informasi maklumat Pimpinan Pusat Muhammadiyah tentang penetapan 1 Syawwal 1428H yang dirilis 17 September yang lalu, beserta penjelasannya yang akan saya coba tulis ulang berdasarkan pemahaman saya.

***Sesuai hisab hakiki wujudul-hilal yang dipedomani oleh Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Pusat Muhammadiyah, hasil hisab awal Syawwal 1428H adalah sebagai berikut:

  1. Ijtima menjelang Syawwal 1428H terjadi pada hari Kamis 11 Oktober 2007M pada pukul 12:02:29 WIB.
  2. Tinggi bulan pada saat terbenam matahari di Yogyakarta (7º 48' LS, 110º 21' BT) adalah 0º 37' 31" (hilal sudah wujud).
  3. Pada saat matahari terbenam tanggal 11 Oktober 2007M di hari Kamis; wilayah Indonesia terlewati oleh garis batas wujudul-hilal sehingga wilayah Indonesia terbagi menjadi dua bagian. Bagian sebelah barat garis tersebut hilal sudah wujud, dan bagian sebelah timurnya hilal belum wujud.
Berdasarkan hasil hisab tersebut dan sesuai dengan metoda penentuan awal bulan yang dipedomani oleh Muhammadiyah, maka Pimpinan Pusat Muhammadiyah menetapkan:
  1. Tanggal 1 Syawwal 1428H jatuh pada hari Jumat 12 Oktober 2007M.
  2. Berdasarkan prinsip kesatuan wilayatul-hukmi; maka wilayah yang belum wujudul-hilal dapat mengikuti wilayah yang sudah wujudul-hilal.
***

Isi maklumat di atas jelas terbaca sebagai maklumat yang bersifat ilmiah. Berisi fakta-fakta astronomis peredaran bulan dan posisi matahari, serta posisi geografis pengamat.

Saya coba jelaskan hal yang pertama, yaitu ijtima. Ijtima, dalam bahasa astronomi disebut konjungsi adalah satu kondisi di mana satu benda langit melewati (menyusul) benda langit lain. Jika dalam satu garis yang tepat tentunya terjadi yang namanya gerhana (gerhana matahari terjadi saat bulan berkonjungsi tepat menghalangi matahari). Jika tidak terjadi gerhana, maka konjungsi yang terjadi tidak menghasilkan sudut elongasi, atau elongasi sebesar 0º.

Pada kasus bulan dan matahari untuk penentuan bulan baru atau new moon, konjungsi atau ijtima terjadi pada saat altitude/ketinggian bulan dan matahari adalah sama. Hal ini disebut sebagai konjungsi geosentris. Setelah konjungsi, matahari akan terbenam lebih dahulu. Hal inilah yang menimbulkan penampakan sabit atau crescent untuk pertama kalinya di awal bulan baru Hijriyah.

Catatan:Saya butuh konfirmasi lebih mendalam lagi mengenai konjungsi ini. Selain konjungsi yang saya pahami di atas (bisa jadi pemahaman saya salah), ada juga konjungsi celestial (bukan berdasarkan koordinat azimut/bumi tapi koordinat matahari/celestial) yang menjadi patokan kondisi yang disebut dark moon. Apakah ijtima 11 Oktober 2007M pukul 12:02:29 WIB adalah konjungsi celestial? Sebab jika saya amati simulasinya dengan Stellarium, konjungsi yang saya pahami terjadi sekitar pukul setengah lima sore (tinggi bulan dan matahari sama di kisaran 15º di atas ufuk barat).

The astronomical New Moon, sometimes known as the dark moon to avoid confusion, occurs by definition at the moment of conjunction in ecliptic longitude with the Sun, when the Moon is invisible from the Earth. This moment is unique and does not depend on location, and under certain circumstances it may be coincident with a solar eclipse.

Konjungsi geosentris di atas dan penampakan hilal sesaat setelah matahari terbenam bisa berbeda-beda di tiap tempat. Dari contoh maklumat di atas, tinggi bulan dari pengamatan di Yogyakarta adalah hanya setengah derajat (0º 37' 31"). Akibat perbedaan geografis, bisa jadi di Papua yang melakukan rukyat belum melihat hilal (karena bulan terbenam lebih dahulu daripada matahari).

Berikut saya rangkum penjelasan maklumat PP Muhammadiyah yang cukup pajang (2,5 halaman A4 dengan spasi satu) dengan pemahaman saya.

وَالۡقَمَرَ قَدَّرۡنَاهُ مَنَازِلَ حَتَّي عَادَ كَالۡعُرۡجُونِ الۡقَدِيمِ لَا الشَّمۡسُ يَنبَغِي لَهَا أَن تُدۡرِكَ الۡقَمَرَ وَلَا اللَّيۡلُ سَابِقُ النَّهَارِ وَكُلٌّ فِي فَلَكٍ يَسۡبَحُونَ 39: dan telah Kami tetapkan bagi bulan manzilah-manzilah, sehingga (setelah dia sampai ke manzilah yang terakhir) kembalilah dia sebagai bentuk tandan yang tua.40: Tidaklah mungkin bagi matahari mendapatkan bulan, dan malam pun tidak dapat mendahului siang; dan masing-masing beredar pada garis edarnya.--Q.S. Yasin 39-40

Allah menentukan bahwa bulan dalam perjalanannya mengelilingi bumi melalui manzilah-manzilah hingga sampai manzilah terakhir di mana bulan kembali sebagai al-urjun al-qadim. Keaadan ini terjadi di sekitar terjadinya ijtima. Ijtima itu sendiri tidak dapat dijadikan patokan penentuan bulan baru karena perbandingan ukuran piringan bulan dan piringan matahari tidak tetap.

Oleh sebab itu diperlukan unsur lain untuk menentukan awal bulan baru, yaitu pernyataan bagian pertama ayat 40. Penggalan pertama ayat ini menyatakan bahwa tidak mungkin matahari mengejar bulan. Dalam ilmu astronomi diketahui bahwa gerak semu matahari (sebenarnya bumi yang bergerak mengelilingi matahari) dalam perjalanan tahunannya jauh lebih lambat dibandingkan dengan peredaran bulan dalam bulanannya. Dan bergerak ke arah timur.

Gerak ke arah timur ini bisa kita saksikan setiap harinya setelah ijtima, di mana setiap sunset sejak awal bulan; bulan akan terus menjauhi matahari ke arah timur, hingga pada tanggal 15 (bulan hijriyah) atau hari ke-14 bulan purnama terbit di timur setelah matahari terbenam.

Ada bagian di penjelasan maklumat tersebut yang tidak saya mengerti, kutipannya sebagai berikut:

Bulan menempuh jarak lebih dari 13,2º, sedangkan matahari kurang dari 1º, sehingga bulanlah yang lebih cepat, dan tidak ada kemungkinan bagi matahari  mengejar apalagi mendahuluinya.

Catatan: Semoga ada yang lebih paham membaca ketidakmengertian saya ini. Tentunya lebih baik mereka dari tim majelis tarjih dan tajdid Muhammadiyah yang resmi menerbitkan maklumat tersebut.

Bagian awal ayat 40 dengan dihubungkan dengan ayat 39 memberikan pengertian bahwa bulan baru mulai ketika bulan telah mendahului matahari dalam gerak semu mereka dari barat ke timur. Saat matahari terkejar oleh bulan itulah dalam astronomi disebut sebagai ijtima, atau konjungsi.

Meski ijtima bisa dijadikan pedoman sebagai saat pergantian bulan, namun sangat sulit untuk diterapkan, karena ia bisa terjadi kapan saja. Oleh karena itu dibutuhkan unsur lain yang lebih konkret berupa garis yang menyatakan bulan telah mendahului matahari. Garis tersebut adalah garis pergantian siang dan malam, alias garis ufuk/horison barat.

Dengan kata lain, apabila saat pergantian siang dan malam; bulan telah mendahului matahari (bulan berada di atas ufuk saat matahari terbenam), maka saat itulah bulan baru telah datang tanpa memperhitungkan seberapa tingginya bulan di atas ufuk.

Dari penjelasan di atas tentunya bisa memberi gambaran kepada kita bagaimana ilmu hisab dijadikan dasar perhitungan penentuan awal bulan, selain mungkin anda sudah membaca tulisan saya sebelumnya tentang (simulasi) bagaimana rukyat dilakukan. Anda bisa membaca lagi informasi lain yang lebih komprehensif mengenai perbedaan penentuan dan kriteria (hisab vs rukyat) di situs Rukyatul Hilal Indonesia di halaman Visibilitas Hilal Bulan Syawwal 1428H.

Penjelasan maklumat tersebut diakhiri dengan dua kesimpulan tambahan:

  1. Bahwa menurut ketentuan Rasulullah, satu bulan itu adalah masa bulan mengelilingi bumi dari ijtima ke ijtima. Menurut ilmu astronomi rata-ratanya adalah 29 hari 12 jam 44 menit 2.8 detik. Oleh karena hal tersebut peristiwa ijtima menjadi patokan penting kriteria penentuan awal bulan.
  2. Bahwa rukyat bukan kriteria mutlak untuk menentukan awal bulan adalah karena perintah rukyat itu disertai dengan "illat yang disebutkan oleh pembawa syariah sendiri; illatnya adalah keadaan umat waktu itu yang masih ummi, dalam arti belum banyak mengenal baca-tulis dan perhitungan astronomi". Dalam satu peradaban yang telah mencapai kemajuan tinggi dalam astronomi serta perkembangan ilmu pengetahuan yang telah dapat memberikan akurasi perhitungan yang sangat meyakinkan seperti saat ini, maka "illat keadaan umat yang masih ummi itu tidak ada lagi, dan karenanya rukyat visual tidak berlaku lagi, melainkan digunakan hisab karena dapat memberikan kepastian yang lebih tinggi sesuai dengan kaidah fikih".


Posted by Yulian Firdaus on Oct 1, '07 3:26 PM for everyone
Selera musik saya sebenarnya kurang update. Bahkan tak banyak musik lokal yang saya gemari, paling hanya seputaran musik pop/Sunda-nya Doel Sumbang, Iwan Fals, Dewa 19 format lama, Pas Band, KLa Project sampai konser Klakustik, Chrisye dan God Bless. Genre yang mendominasi sejak kecil adalah Rock dan Metal. Apalagi mencapai puncaknya di era 1990-an saat Heavy Metal sangat berkembang. Ketika mainstream musik tersebut bersaing dengan era Alternative; saya tak banyak mengikutinya. Mungkin bisa dikatakan saya berhenti menggemari grup band tertentu atau genre musik tertentu yang baru atau sedang trend. Apalagi dengan membludaknya tayangan MTV yang lebih banyak menyodorkan genre Alternative, Rap, Dance serta R&B, dan boysband tentunya.

Era internet broadband di tahun 2000 membuat saya menikmati lagi musik-musik yang saya sukai tapi tak sempat saya nikmati, karena sudah sulit mencari teman untuk pinjam meminjam kaset atau Audio CD. Jadilah saya bernostalgia dengan musik-musik Yes, Rush, Genesis, Marillion, Renaissance dan Annie Haslam, Dire Straits, Dream Theater, Pink Floyd dan lain-lainnya. Siapa yang tak kenal format MP3 yang beredar layaknya worm/virus yang menghabiskan ruang penyimpanan? Apalagi sekarang didukung dengan murahnya MP3 Player yang hanya sebesar kotak korek api dengan kapasitas ratusan lagu.

Adalah Mahen yang mengenalkan grup band Rhapsody (sekarang berganti nama menjadi Rhapsody of Fire) di awal tahun 2000. Hore, saya berteman dengan artis vokalis grup musik panggung Evernine! Tentunya menyenangkan berdiskusi (dan tentunya saling bertukar koleksi) soal musik dengan musisi yang cukup versatile dalam segala jenis genre.

Rhapsody of Fire adalah grup band Italia yang mengusung genre Power Metal. Musik yang sarat dengan ketukan drum yang cepat dan distorsi gitar. Namun karena faktor lirik lagu yang bertemakan fantasi, epik atau legenda, serta iringan kibor yang operatik atau klasik sering disebut sebagai genre Symphonic Power Metal. Grup band lainnya akhirnya saya dengarkan (juga saya gemari) seperti Stratovarius (Finlandia), Kamelot (Amerika), Dark Moor (Spanyol) atau Sonata Arctica (Finlandia).

NightwishDi tahun 1997-an satu grup band dari Finlandia muncul ke panggung musik Eropa, mengusung musik Metal yang simfonik, namun tidak sekeras/secepat Rhapsody of  Fire atau Stratovarius. Adalah grup band Nightwish yang dianggap menjadi pelopor genre Symphonic Metal. Musik Metal yang sarat dengan nuansa simfonik (instrumen senar/string seperti biola/piano dan instrumen angin/wind seperti flute) serta vokal wanita yang sopran atau mezzo-sopran. Kadang-kadang dibumbui dengan vokal grunt/death, vokal serak yang suwer tidak jelas seperti vokal band Kreator di era Thrash Metal dulu. Sering disebut sebagai musik Beauty and The Beast, kecantikan vokal sopran wanita dipadu dengan vokal liar laki-laki.

After ForeverBand-band genre Metal juga ikut terpengaruh unsur simfonik ini, biasanya membuat rekaman/konser dengan paduan orchestra, seperti Metallica dan Scorpions yang merilis album orkestra di tahun 2000-an. Namun rasanya kurang luar biasa jika dibandingkan dengan grup band Rock yang sudah dari dulu berkolaborasi dengan London Philharmonic Orchestra.

Genre Symphonic Metal ini sering juga disebut Gothic Metal pada awal perkembangannya. Namun saya kurang mengerti unsur gothic pada lagu atau melodi, yang saya tahu mungkin hanya faktor visual dan ruang seperti halnya pada Arsitektur Gothic di era kebangkitan kembali atau Renaissance. Suasana yang kelam, ruang yang menjulang, struktur flying butress, kastil yang menjulang, pintu besar yang melengkung lancip, fashion dan make-up pucat bergaris mata hitam, korset, gaun putih atau hitam, lipstik hitam seperti Lord Dracula, legenda vampire dan sebagainya. Jejak-jejak arsitektur era Gothic memang bertebaran di wilayah Eropa, dari timur Hungaria hingga barat Spanyol. Mungkin yang saya ingat hanya Antoni Gaudi, tapi karyanya bukanlah gothic, melainkan art nouveau.

Within TemptationSelain Nightwish yang diusung aransemen kibordis Tuomas Holopainen dan soprano Tarja Turunen, band lain yang cukup terkenal adalah After Forever dari Belanda yang dimotori Mark Jansen dan soprano Floor Jansen. After Forever dan Nightwish seolah bersaing di kancah Symphonic Metal. Sulit untuk mengatakan mana yang lebih bagus.

Di saat yang sama, juga dari Belanda, Within Temptation menambah khazanah genre ini. Dimotori oleh gitaris Robert Westerholt dan soprano Sharon den Adel. Dibandingkan dengan After Forver dan Nightwish, Within Temptation tidak mengusung unsur power/speed.


EpicaTahun 2002, Mark Jansen keluar dari After Forever karena perbedaan visi musiknya. Di tahun berikutnya Mark Jansen bersama mezzo-soprano Simone Simons --yang masih berusia 18 tahun-- menelurkan album The Phantom Agony dalam usungan grup band baru bernama Epica, yang diilhami oleh album Epica karya Kamelot.

Tanggal 26 September kemarin adalah hari yang ditunggu-tunggu para penggemar Nightwish. Nightwish meluncurkan album terbarunya, Dark Passion Play, dengan formasi baru vokalis Anette Olzon. Tiga lagu dari calon album tersebut sudah beredar di internet sebagai promo warna musik mereka yang baru tanpa soprano Tarja Turunen. Memang selalu kritikal saat grup band yang sudah established dengan format lama menawarkan sesuatu yang baru kepada penggemarnya. Seperti saat Genesis tanpa Peter Gabriel, seperti Rush yang menawarkan musik metal yang lebih lembut dengan synthesizer/organ serta drum elektrik, seperti Dewa 19 tanpa Ari Lasso, seperti God Bless tanpa Ian Antono, Marillion tanpa Fish dan lain sebagainya.

Satu perkembangan industri musik yang rasanya tidak ada di Indonesia adalah promo album dalam bentuk CD Single atau Maxi Single. Bagi masyarakat Indonesia rasanya format tersebut terlalu mahal, membeli CD musik yang hanya berisi satu-dua-tiga lagu pada CD Single atau empat-lima-enam lagu pada Maxi Single. Terkadang format Single ini diluncurkan juga setelah album dirilis, biasanya berisi lagu pada album tersebut tapi dengan aransemen yang berbeda.

Rasanya saya pun tak etis menikmati hasil karya-karya mereka karena koleksinya saya dapatkan dari sana-sini melalui internet. Apa hendak dikata, kepala saya saat ini dipenuhi suara-suara vokalis cantik Floor Jansen, Tarja Turunen, Simone Simons dan Sharon den Adel.

Berikut contoh lagunya di YouTube:
1. Nightwish: Gethsemane

2. After Forever: Emphasis

3. Within Temptation: Ice Queen

4. Epica: Sensorium

Posted by Yulian Firdaus on Sep 30, '07 10:56 PM for everyone

Pancasila

  1. Ketuhanan Yang Maha Esa
    1. Bangsa Indonesia menyatakan kepercayaannya dan ketaqwaannya terhadap Tuhan Yang Maha Esa.
    2. Manusia Indonesia percaya dan taqwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa, sesuai dengan agama dan kepercayaannya masing-masing menurut dasar kemanusiaan yang adil dan beradab.
    3. Mengembangkan sikap hormat menghormati dan bekerjasama antara pemeluk agama dengan penganut kepercayaan yang berbeda-beda terhadap Tuhan Yang Maha Esa.
    4. Membina kerukunan hidup di antara sesama umat beragama dan kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa.
    5. Agama dan kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa adalah masalah yang menyangkut hubungan pribadi manusia dengan Tuhan Yang Maha Esa.
    6. Mengembangkan sikap saling menghormati kebebasan menjalankan ibadah sesuai dengan agama dan kepercayaannya masing-masing.
    7. Tidak memaksakan suatu agama dan kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa kepada orang lain.
  2. Kemanusiaan Yang Adil dan Beradab
    1. Mengakui dan memperlakukan manusia sesuai dengan harkat dan martabatnya sebagai makhluk Tuhan Yang Maha Esa.
    2. Mengakui persamaan derajad, persamaan hak dan kewajiban asasi setiap manusia, tanpa membeda-bedakan suku, keturrunan, agama, kepercayaan, jenis kelamin, kedudukan sosial, warna kulit dan sebagainya.
    3. Mengembangkan sikap saling mencintai sesama manusia.
    4. Mengembangkan sikap saling tenggang rasa dan tepa selira.
    5. Mengembangkan sikap tidak semena-mena terhadap orang lain.
    6. Menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan.
    7. Gemar melakukan kegiatan kemanusiaan.
    8. Berani membela kebenaran dan keadilan.
    9. Bangsa Indonesia merasa dirinya sebagai bagian dari seluruh umat manusia.
    10. Mengembangkan sikap hormat menghormati dan bekerjasama dengan bangsa lain.
  3. Persatuan Indonesia
    1. Mampu menempatkan persatuan, kesatuan, serta kepentingan dan keselamatan bangsa dan negara sebagai kepentingan bersama di atas kepentingan pribadi dan golongan.
    2. Sanggup dan rela berkorban untuk kepentingan negara dan bangsa apabila diperlukan.
    3. Mengembangkan rasa cinta kepada tanah air dan bangsa.
    4. Mengembangkan rasa kebanggaan berkebangsaan dan bertanah air Indonesia.
    5. Memelihara ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial.
    6. Mengembangkan persatuan Indonesia atas dasar Bhinneka Tunggal Ika.
    7. Memajukan pergaulan demi persatuan dan kesatuan bangsa.
  4. Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan/Perwakilan
    1. Sebagai warga negara dan warga masyarakat, setiap manusia Indonesia mempunyai kedudukan, hak dan kewajiban yang sama.
    2. Tidak boleh memaksakan kehendak kepada orang lain.
    3. Mengutamakan musyawarah dalam mengambil keputusan untuk kepentingan bersama.
    4. Musyawarah untuk mencapai mufakat diliputi oleh semangat kekeluargaan.
    5. Menghormati dan menjunjung tinggi setiap keputusan yang dicapai sebagai hasil musyawarah.
    6. Dengan i’tikad baik dan rasa tanggung jawab menerima dan melaksanakan hasil keputusan musyawarah.
    7. Di dalam musyawarah diutamakan kepentingan bersama di atas kepentingan pribadi dan golongan.
    8. Musyawarah dilakukan dengan akal sehat dan sesuai dengan hati nurani yang luhur.
    9. Keputusan yang diambil harus dapat dipertanggungjawabkan secara moral kepada Tuhan Yang Maha Esa, menjunjung tinggi harkat dan martabat manusia, nilai-nilai kebenaran dan keadilan mengutamakan persatuan dan kesatuan demi kepentingan bersama.
    10. Memberikan kepercayaan kepada wakil-wakil yang dipercayai untuk melaksanakan pemusyawaratan.
  5. Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia
    1. Mengembangkan perbuatan yang luhur, yang mencerminkan sikap dan suasana kekeluargaan dan kegotongroyongan.
    2. Mengembangkan sikap adil terhadap sesama.
    3. Menjaga keseimbangan antara hak dan kewajiban.
    4. Menghormati hak orang lain.
    5. Suka memberi pertolongan kepada orang lain agar dapat berdiri sendiri.
    6. Tidak menggunakan hak milik untuk usaha-usaha yang bersifat pemerasan terhadap orang lain.
    7. Tidak menggunakan hak milik untuk hal-hal yang bersifat pemborosan dan gaya hidup mewah.
    8. Tidak menggunakan hak milik untuk bertentangan dengan atau merugikan kepentingan umum.
    9. Suka bekerja keras.
    10. Suka menghargai hasil karya orang lain yang bermanfaat bagi kemajuan dan kesejahteraan bersama.
    11. Suka melakukan kegiatan dalam rangka mewujudkan kemajuan yang merata dan berkeadilan sosial.

Posted by Yulian Firdaus on Sep 27, '07 7:14 PM for everyone
Kemarin siang, saat sedang bersantai di dalam kamar, saya ditelepon Mira katanya matahari menampakkan fenomena luar biasa. Saya pun berlari ke luar, mendongak dan silau saat matahari tegak di atas kepala. Sinar matahari yang putih menyilaukan dikelilingi oleh cincin, di dalam cincin tersebut langit menjadi lebih gelap dan cincinnya sendiri sedikit terlihat berwarna seperti pelangi. Mengagumkan. Fenomena alam tersebut disebut sebagai fenomena optik halo.

Fenomena optik halo

Pukul 13:00 kurang saya kembali ke kasur untuk tidur, mengantuk setelah 24 jam belum tidur. Mata terlalu berat untuk menulis, juga tak saya rekam karena kamera sedang dipinjam. Sore saya bergerak ke Dago untuk bertemu rekan-rekan mantan karyawan kantor tempat kerja saya dulu, sekaligus berbuka bersama dan berbincang-bincang dengan rekan-rekan sejawat yang sudah berpencar-pencar.

Halo, dalam bahasa dan tulisan Latin ἅλως, juga disebut sebagai nimbus atau gloriole. Merupakan fenomena optik yang menampilkan bentuk cincin di sekitar sumber cahaya. Di alam biasanya kita lihat saat bulan purnama atau saat matahari terang di siang hari.Fenomena tersebut terjadi akibat refleksi dan refraksi cahaya matahari/bulan oleh kristal-kristal es yang terdapat di awan cirrus, awan yang terletak di tingkatan atmosfer yang disebut troposfer, sekitar 5-10km dari permukaan bumi.

Fenomena halo bisa juga anda temui saat melihat bohlam yang menyala di ruangan gelap, atau lampu jalan di malam hari.

Refraksi cahayaDispersi cahaya

Saat awan cirrus hanya merefleksikan dan merefraksikan cahaya matahari, biasanya halo yang terbentuk hanya cincin yang tak berwarna. Namun jika pada sudut yang tepat, bisa terjadi juga dispersi sehingga cincin yang terjadi juga berwarna seperti halnya pelangi. Contoh refraksi yang sederhana adalah saat anda melihat sedotan dalam gelas berisi air terlihat patah, atau permukaan dasar kolam yang terlihat menjadi lebih dekat ke permukaan daripada yang sebenarnya.

Refleksi yang terjadi saat cahaya melewati titik air, es atau kristal yang transparan hanya terjadi pada sudut tertentu saja. Sudut ini ditentukan oleh index refraksi medium tersebut. Contoh sederhana saat kita melihat akuarium pada sudut tertentu kaca akuarium yang tembus pandang tiba-tiba menjadi cermin, memantulkan bayangan isi akuarium.

Melalui pencarian technorati dengan kata kunci halo matahari banyak rekan-rekan lain yang melaporkan fenomena optik halo hari Kamis kemarin.Terima kasih, saya sudah ditelepon untuk menyaksikan keindahan alam yang jarang terjadi, jika tidak; mungkin saya sudah lebih dulu tertidur.

*foto adalah hasil jepretan Mira di flickr-nya*

Posted by Yulian Firdaus on Sep 22, '07 8:46 AM for everyone
Penetapan bulan baru kalender Hijriyah selalu berdasarkan pada dua metoda, yaitu rukyat dan hisab. Rukyat adalah mengamati visibilitas hilal (bulan sabit) saat ijtima, matahari terbenam di hari ke-29 bulan berjalan. Jika tampak berarti bulan baru sudah dimulai, jika belum berarti bulan berjalan adalah 30 hari. Sedangkan hisab adalah menentukan kalender berdasarkan perhitungan ilmu hisab atau astonomi dengan bantuan teknologi, termasuk komputer.

Saya sendiri meyakini penanggalan dengan metoda hisab, dengan alasan perkembangan teknologi saat ini sangat akurat dan terbukti. Alasan kedua, saya tak punya teleskop untuk ikut menyaksikan dan bersaksi telah melihat hilal. Alasan ketiga, mata saya minus (myopia), juga silindris, tentunya akan sangat tidak akurat melihat bulan yang masih gelap di ufuk barat saat matahari terbenam.

Namun alasan yang bersifat individu ini tentunya bisa jadi tidak sejalan dengan keputusan lembaga agama ataupun pemerintah. Pemerintah melalui Departemen Agama menetapkan bulan baru setelah melakukan rukyat dan bersidang menentukan awal bulan untuk diumumkan kepada masyarakat luas.

Satu kritik terhadap metoda rukyat adalah seolah-olah bulan baru hanya penting untuk penentuan awal Ramadhan, Syawwal, Dzulhijjah dan awal tahun bulan Muharram. Selayaknya jika memang metoda rukyat diyakini, setiap akhir bulan (hari ke-29 bulan berjalan) harus selalu ada sidang penentuan bulan baru, apakah esok tanggal 30 ataukah tanggal 1 bulan baru dan diumumkan kepada masyarakat luas.

Imkanur Rukyat adalah kriteria penentuan awal bulan (kalender) Hijriyah yang ditetapkan berdasarkan Musyawarah Menteri-menteri Agama Brunei Darussalam, Indonesia, Malaysia, dan Singapura (MABIMS), dan dipakai secara resmi untuk penentuan awal bulan Hijriyah pada Kalender Resmi Pemerintah, dengan prinsip awal bulan (kalender) Hijriyah terjadi jika:

  • Pada saat matahari terbenam, ketinggian (altitude) Bulan di atas cakrawala minimum 2°, dan sudut elongasi (jarak lengkung) Bulan-Matahari minimum 3°, atau
  • Pada saat bulan terbenam, usia Bulan minimum 8 jam, dihitung sejak ijtimak.



Dalam ilmu dasar astronomi, ketinggian atau altitude didefinisikan dalam derajat, yang artinya ketinggian tersebut menggambarkan sudut yang terjadi antara garis horison dengan posisi bulan dari pengamat. Bukan ketinggian dalam arti jarak linier.

Untuk metoda hisab, program-program komputer yang ada sudah cukup membantu orang awam percaya terhadap semua perhitungan peredaran benda-benda langit yang teratur. Anda bisa menggunakan program Open Source seperti Stellarium, atau yang berbayar seperti Starry Night. Dengan program tersebut anda bisa melihat ijtima (konjungsi matahari dan bulan saat matahari terbenam di hari ke-29 berjalan). Tidak hanya sekarang ini, tapi juga bulan depan, tahun depan atau ijtima di masa lalu.

Berikut saya sertakan contoh ijtima penentuan awal Ramadhan yang lalu dengan software Stellarium (klik pada gambar untuk melihat resolusi penuh 1280x800 di flickr). Bisa anda lihat saat matahari terbenam 12 September, posisi bulan berada pada altitude 8º. Menandakan esoknya 13 September sudah masuk tanggal 1 Ramadhan. Perbedaan/perdebatan tidak terjadi antara metoda rukyat dan hisab.

Ijtima 12 September 2007

Bagaimana dengan 1 Syawwal mendatang?
Ada kemungkinan besar perbedaan, sebab menurut hisab posisi bulan berada di atas cakrawala (cukup kecil, di bawah 1º) saat matahari terbenam di hari ke-29 Ramadhan atau tanggal 11 Oktober. Bagi penganut rukyat, ketinggian bulan ini terlalu sempit, sehingga diputuskan esoknya tanggal 12 Oktober masih bulan Ramadhan, tanggal 30 Ramadhan, bukan bulan baru 1 Syawwal.

Ijtima 11 Oktober 2007

Tentunya, ijtima tanggal 12 Oktober sudah pasti menunjukkan posisi bulan berada jelas di atas cakrawala saat matahari terbenam. Selain karena jumlah hari dalam bulan Hijriyah adalah maksimum 30 hari.

Ijtima 12 Oktober 2007

Semoga anda memahami apa yang anda yakini.

Posted by Yulian Firdaus on Sep 18, '07 11:37 PM for everyone
“Zorg, dat als ik terug kom hier een stad is gebouwd!”
(Usahakan, bila aku datang kembali ke sini, sebuah kota telah dibangun!”)

Ada banyak, selain saya, yang bercerita tentang kota Bandung. Tentang kotanya, tentang makanannya, tentang keramahannya, tentang panas, dingin dan sejuknya, tentang kemacetannya, tentang PERSIB-nya, tentang musiknya, tentang sampahnya, tentang pengharapan warganya... tentang segalanya.

Sebagai warga Bandung, saya tak lepas juga bercerita tentang kota ini, secara langsung atau jauh lebih banyak secara tak langsung, sering juga malah teu nyambung. Satu konteks yang tak pernah saya lepas dari pikiran adalah tentang wilayah Bandung itu sendiri. Kata 'Bandung' kini semakin menyempit sebagai 'Kotamadya Bandung' saja, walau sebenarnya secara fisik wilayah kotamadya sudah meluas sudah sejak lama (melebar ke arah timur). Saya sendiri suka menyebut 'Bandung Raya' sebagai wilayah yang meliputi administratif Kotamadya Bandung, Kotamadya Cimahi dan Kabupaten Bandung.

Penyempitan arti itu sendiri sebenarnya akibat warga Bandung sendiri, bukan warga kota lain. Misalnya dulu di sekitaran rumah saya yang hanya beberapa ratus meter dari perbatasan, masih di wilayah kotamadya, sering terdengar orang berbicara, "Bade ameng ka Bandung heula, ah" yang artinya, "Mau main ke Bandung dulu, ah". Padahal di KTP mereka jelas tertulis KOTAMADYA BANDUNG. Apalagi bagi mereka yang jelas tinggal di wilayah kabupaten, 'Bandung' adalah Kotamadya Bandung, dan kerap --lebih senang-- menyebut dirinya seperti "aing mah urang Cicalengka", Ciparay, Cililin, Pangalengan, Ciwidey, Majalaya, Banjaran, Rancaekek, Soreang dan lain-lainnya.

Konteks kedua yang melekat pada Bandung adalah etnis Sunda, peradaban, budaya dan orang-orangnya, karena kata 'Bandung' dan 'Sunda' hampir selalu saling berasosiasi. Sebagai warga Bandung, apalagi juga keturunan orang Sunda, cukup getir melihat pemakaian Bahasa Sunda semakin berkurang akhir-akhir ini. Suwer, anak kecil ngomong berbahasa Sunda itu lebih menggugah daripada berbahasa Indonesia. Lagipula orang tua tak perlu mengajarkan Bahasa Indonesia kepada anak-anaknya, biarkan sekolah yang mengajarkan mereka.

Jadi, Bandung mana yang anda cakupi?

Meski tak pernah terstruktur ternyata ada beberapa tulisan saya yang (katanya) dijadikan rujukan informasi, padahal saya bukan pusat informasi, bukan pula seorang pakar, tapi seorang yang terkapar. Tulisan-tulisan tersebut sebenarnya mudah dicari di Google dengan keyword "bandung site:firdaus.or.id", tapi saya coba tuliskan rangkaian tulisan tersebut dalam bentuk paragraf yang (semoga) memudahkan.

Setiap kota mempunyai sejarahnya masing-masing, begitu juga dengan yang pernah saya tulis sedikit tentang sejarah Bandung. Sejarah modern tak lepas dari sejarah dan peradaban masa silam, terutama secara umum tentang sejarah Sunda itu sendiri. Dalam konteks kecil, nama sebuah tempat pun bisa mempunyai silsilahnya sendiri.

Cerita tentang Bandung tentunya tak lepas dari orang-orang serta peristiwanya. Siapa lagi kalau bukan para tokoh atau para pahlawan yang berjasa untuk hal tersebut. Ada Si Jalak Harupat Rd. Oto Iskandar di Nata, ada Rd. Dewi Sartika, Ibu Inggit Garnasih atau Mohamad Toha. Di bidang seni kita mengenal Mang Udjo dengan padepokan angklungnya atau Harry Roesli, Doel Sumbang, Elfa's yang cukup kental mewarnai pertumbuhan musik di kota ini.

Bandung Lautan Api masih tetap menjadi jargon penyemangat warga, termasuk bobotoh PERSIB yang sering menyanyikannya dengan sedikit perubahan menjadi "sekarang telah menjadi lautan BIRU".

Di bidang pers, kota Bandung tak lepas dari perjuangan Tirto Adhi Soerjo, Bapak Pers Nasional. Kisah perjuangannya digambarkan oleh Pramoedya Ananta Toer dalam karya Tetralogi Buru.

Ruang-ruang terbuka adalah fasilitas umum kota yang harus ada. Bandung punya alun-alun kota, lapangan Gasibu dan lapangan Tegallega. Tentu sangat jauh berbeda jika dibandingkan dengan wajah Bandung tempo dulu di kota yang dilingkung ku gunung ini.

Wisata alam, terutama alam pegunungan, menjadi satu daya tarik wisata, baik bagi warganya maupun dari turis-turis domestik. Ada kawah Tangkubanparahu, hutan Jayagiri, hutan Pakar-Maribaya, Situ Lembang yang sepi kurang terkunjungi, Situ Ciburuy yang katanya sudah tak jernih dan semakin surut, Situ Aksan yang sudah menghilang kering tinggal monumen, Kawah Putih,  Ranca Upas serta Situ Patengan dan Batu Cinta-nya yang terpadu sebagai wisata alam Bandung Selatan, serta Situ Cileunca di Pangalengan.

Tak hanya alam di bumi, anda pun bisa berwisata memandang luar angkasa di Observatorium Bosscha.

Soal makanan, jelas Bandung punya segudang makanan enak. Dari yang jajanan pasar sederhana hingga ke olahan modern. Tempat makan enak pun tak terhitung banyaknya, dari yang bersebelahan dengan tempat sampah hingga kelas restoran, semua ada, sampai saya tak tahu harus menuliskannya seperti apa. Hanya satu-dua cerita, seperti Warung Indung misalnya.

Lain waktu saya lengkapi lagi. Semoga saya tetap bisa bercerita tentang kota Bandung ini seterusnya.

Cerita lain melalui mata kamera bisa anda lihat di tag bandung di Panoramio.

[Merupakan tulisan dari http://yulian.firdaus.or.id/tentang-bandung/]


Posted by Yulian Firdaus on Aug 27, '07 8:17 AM for everyone
Tanggal 28 Agustus 2007 selepas Maghrib akan terjadi gerhana bulan total. Gerhana kali ini sebenarnya sudah terjadi sebelum bulan terbit di timur. Saat bulan terbit, bulan masih tertutup oleh bayangan bumi (umbra) dan lepas dari umbra selepas Isya. Selepas gerhana (bulan keluar dari wilayah penumbra) tentunya kita akan melihat bulan purnama. Terang benderang jika tak terhalang awan.

Info gerhana bulan total bisa dilihat dalam ilustrasi gerhana yang dibuat oleh NASA.

Bagi masyarakat Sunda, bulan dijadikan tempat curhat melalui Nini Anteh yang tinggal dan menenun di atas sana, ditemani sang kucing bernama Candramawat. Nini Anteh merupakan legenda atau kisah seorang nenek renta yang selalu melakukan dialog dengan bulan saat sedang bermasalah, baik masalah sosial, budaya maupun masalah kehidupan manusia pada umumnya terutama budi pekerti. Bulan menjadi tumpuan harapan bagi terangnya kembali pikiran dan hati manusia. Saat manusia berpikiran sumpek, saat hati buta, Nini Anteh melaporkannya pada bulan dalam bentuk dialog.

Saat bulan purnama adalah saat terbaik bermain di malam hari di bawah terangnya purnama, sambil bernyanyi-nyanyi.

Bulan purnama

cing cangkeling
manuk cingkleung cindeten
plos ka kolong
bapa satar buleneng
cing cangkeling
ucing hideung nyireukem
pung ka bulan
nini anteh keur anteng
yu urang ulin
meungpeung bulan ngagateung
pray duh siang
urang ulin diburuan


Memuja wajah rembulan

bulan tok, bulan tok
bulanna sagede batok
bulan pak, bulan pak
bulanna sagede opak
bulan ruk, bulan ruk
bulanna sagede jeruk
bulan pir, bulan pir
bulanna sagede tampir


Memanggil Nini Anteh untuk turun ke bumi

ieu nini ucing nyusul
sorangan indit di langit
kadieu ninggalkeun bulan
meureun hayang milu ulin
ucing teh liwar kacida
cik urang sintreuk sing tarik
eta nini ulah kitu
masing karunya ka ucing
keun bae hayangeun incah
heunteu beda kawas nini
lah enya nini karunya
hayu ucing urang ulin


Dan mengusir naga yang mencaplok bulan saat gerhana

trang-trang kolentrang
si londok paeh nundutan
tikusruk kana durukan
mesat gobang kabuyutan
trang-trang kolentrang
si naga nyingkah sing anggang
jeung gancang ngutahkeun bulan
caang bulan di buruan
trang-trang kolentrang
si nini urang tulungan
imahna teh kapoekan
bulan ngempur ngabrak siang


Indahnya masa kecil...

Posted by Yulian Firdaus on Aug 17, '07 11:50 AM for everyone
Husein Mutahar lahir pada 5 Agustus 1916. Ia tidak pernah mendapat pendidikan musik secara formal. Namun bakat dan perkenalannya dengan doktor musik asal Polandia, Rudzit, menjadikan beliau dikenang sebagai komponis besar hingga saat ini. Ia banyak menyumbangkan karya yang mampu membangkitkan semangat nasionalisme generasi muda pada era perjuangan kemerdekaan. Kini, karya-karyanya tidak hanya dipelajari siswa sekolah, namun diperdengarkan pula saat upacara-upacara kenegaraan.

Ia mengecap pendidikan setahun di Fakultas Hukum Universitas Gadjah Mada peridoe 1946-1947, setelah tamat dari MULO B (1934) dan AMS A I (1938). Pada tahun 1945, Mutahar bekerja sebagai Sekretaris Panglima Angkatan Laut RI di Yogyakarta, kemudian menjadi pegawai tinggi Sekretariat Negara di Yogyakarta (1947). Jabatan terakhirnya adalah sebagai Penjabat Sekretaris Jenderal Departemen Luar Negeri (1974), setelah dipercaya sebagai Duta Besar RI di Vatikan (1969-1973). Di samping himne Syukur, lagu ciptaan pertamanya yang diperkenalkan kepada khalayak pada Januari 1945, Mutahar juga mengarang lagu mars Hari Merdeka (1946). Karya terakhirnya, Dirgahayu Indonesiaku, menjadi lagu resmi ulang tahun ke-50 Kemerdekaan Indonesia.

<img class="inset" src='http://yulian.firdaus.or.id/wp-upload/s_39a11003.jpg' alt='H. Mutahar: 1982' />

Pada 1946-1948, Mutahar menjadi ajudan Presiden Sukarno. Ia adalah penyelamat bendera pusaka Merah Putih saat Yogyakarta, ibu kota Republik Indonesia kala itu, dibombardir Belanda. Mutahar mengamankan bendera tersebut selama tujuh bulan agar tidak jatuh ke tangan Belanda.

H. Mutahar juga terlibat dalam gerakan Pramuka sejak awal lembaga kepanduan itu berdiri. Ia juga pengagas Pasukan Pengibar Bendera Pusaka (Paskibraka).  Kwarnas Pramuka sebenarnya telah berencana untuk mengadakan konser untuk memperdengarkan karya-karya mantan ajudan Bung Karno tersebut. Tercatat 199 lagu menjadi karyanya.

Lelaki yang bisa berbicara dalam 12 bahasa itu dikenal sebagai budayawan yang lemah lembut dan memiliki jiwa nasionalisme tinggi. Ia tidak pernah menikah, namun memiliki sembilan anak angkat yang sangat dekat dengannya. Kepada mereka, Mutahar sering berpesan agar menerapkan sifat jujur dan disiplin.

Ia menghembuskan nafas terakhirnya pada tanggal 9 Juni 2004, pukul 16.30, dalam usia 88 tahun. Pada detik-detik kematiannya, Pak Mut berpesan untuk dimakamkan di Taman Permakaman Umum Jeruk Purut.

--
Dikutip dari <a href="http://www.republika.co.id/koran_detail.asp?id=163300&kat_id=18&kat_id1=&kat_id2=">Republika</a>, <a href="http://www.tempointeraktif.com/hg/stokfoto/2004/12/15/stf,20041215-40,id.html">Tempo</a> dan <a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Husein_Mutahar">Wikipedia</a>.

Posted by Yulian Firdaus on Aug 12, '07 9:03 AM for everyone
Nongkrong adalah budayanya orang-orang Indonesia saat berkumpul di luar ruangan. Bisa duduk bersama di satu meja --duduknya di kursi lah yaw-- sambil minum teh atau kopi, bermain kartu, atau apapun yang bisa menjadi media pengakrab suasana. Saat ronda malam belum masuk jadwalnya, pos ronda pun sering dijadikan tempat nongkrong anak-anak, menghabiskan malam sebelum diusir para orang tua dengan ancaman kutilanak bakal datang.

Tak hanya pos ronda, tempat lain yang dirasa nyaman seperti ujung gang, anak tangga, pinggir selokan, tembok rumah yang rendah, halaman kantor pos, box telepon umum dan lain-lainnya akan menjadi tempat nongkrong saat bisa diduduki atau dijongkoki. Apalagi jika ada gitar dan tamtam/ketipung, maka para tukang nongkrong akan menyumbangkan lagu alias membuat sumbang semua lagu yang dinyanyikan, membuat sedikit keributan yang kadang berakhir karena diusir tetangga yang katanya tak bisa tidur.

Meski tak ada tempat yang nyaman, namun nongkrong pun masih bisa disiasati agar tetap merasa nyaman. Salah satu keahlian orang-orang Indonesia adalah jongkok sempurna, menghindari angin atau agar tidak menghalangi orang-orang lewat. Namun hal ini ternyata berkaitan dengan anatomi tubuh, sebab tidak semua orang Indonesia mampu mengambil posisi jongkok sempurna. Jongkok sempurna adalah pantat menempel ke mata kaki dan telapak kaki menopang tubuh, tidak jinjit. Atau posisi sempurna di WC jongkok. Sedikit kedinginan, lutut sendiri pun dipeluk kedua tangan.

Ruang publik seperti lobby mal, tempat drop off, anak tangga di pintu masuk, selasar yang lebar adalah tempat potensial untuk nongkrong, tempat menunggu atau sebagai meeting point. Manajemen gedung yang memiliki tempat-tempat tersebut kini semakin banyak menyerap konsep dan budaya dari luar. Salah satunya adalah duduk di lantai atau jongkok menyandar ke dinding dijadikan sebagai sikap posisi tubuh yang tidak sopan.

BIP: Ruang publik tanpa nyawa BIP: Dilarang duduk

Lebih buruknya lagi di tempat-tempat tersebut tidak disediakan atau dirancang agar orang bisa duduk. Orang dipaksa berdiri dan hanya bisa iri melihat tempat yang nyaman untuk duduk menunggu digantikan oleh deretan pot bunga seperti di selasar Bandung Indah Plaza yang cukup luas. Para Satpam pun pekerjaannya jadi hanya mengawasi orang dan mengusir mereka yang berusaha duduk nyaman di sebelah pot-pot bunga. Harga manusia sudah kalah oleh pot bunga.

Saya tidak tahu alasan mereka, saat saya duduk di lantai selasar BIP tersebut --di sebelah pohon, spot yang sebenarnya layak dipasang tembok rendah sebagai tempat duduk-- juga disuruh berdiri dengan alasan "tidak enak dilihat". Saya merasakan sesuatu yang salah, entah di pihak mana. Mungkin manajemen gedung terlalu mengacu pada budaya luar, di mana ruang publik dipenuhi orang-orang berdiri, sedangkan di sini, di Indonesia, jika tak ada kursi maka jongkok atau duduk di lantai/ground bukanlah sebuah masalah.

Solusi yang baik datang dari disiplin ilmu arsitektur. Arsitektur bukanlah pameran keramik yang dipakai, warna, jenis kaca, baja dan sebagainya, juga bukan pameran ruang-ruang kosong tanpa nyawa. Saya tak melihat solusi arsitektural di selasar BIP tersebut. Sangat jauh jika dibandingkan dengan halaman Plaza Dago yang dirancang untuk mewadahi budaya pengunjungnya; datang untuk nongkrong, duduk menunggu, baik di bangku, anak tangga plaza atau pinggiran kolam.


Pages:12345
© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help